13 Sep 2017 12:15

Direksi BUMN Rugi Akan Dipecat

bumntoday.com

Menteri BUMN Rini Soemarno.

BUMNTODAY.COM - Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengancam mencopot atau memecat direksi perusahaan negara yang merugi. "Kalau dia (direksi BUMN) tidak perform, kami harus lakukan apa yang kami lakukan, ganti orang," tandas Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementrian BUMN Aloysius Kiik Ro seperti dikutip dari keterangan resmi, Rabu (13/9/2017).

Kerugian perusahaan bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Selain dari kelalaian manajemen, kerugian juga bisa disebabkan oleh kondisi pasar yang tengah lesu. Untuk itu, Kementrian BUMN harus mengevaluasi penyebab kerugian masing-masing perusahaan negara.

24 BUMN masih mengalami kerugian sepanjang semester I 2017. Dibanding periode sama tahun lalu, jumlahnya menurun dari 27 perusahaan plat merah. Target ke depan, hanya ada 1 BUMN yang merugi hingga akhir tahun. Adalah PT Merpati Nusantara Airlines.

"Kementerian BUMN punya target tinggal Merpati saja yang mengalami kerugian di tahun ini," ungkap Sekretaris Kementrian BUMN Imam A Putro dalam keterangan pers kinerja semester I 2017 BUMN di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Selasa (29/8/2017).

3 BUMN yang berhasil bangkit dari kerugian adalah PT Djakarta Lloyd (Persero), PT Nindya Karya (Persero), dan PT Varuna Tirta Prakasya (Persero). Djakarta Lloyd berhasil bangkit karena adanya sinergi dengan PLN dalam jasa angkutan kapal. Nindya Karya perlahan mendapatkan kontrak baru, sedangkan Varuna Tirta Prakasya melakukan sinergi dengan BUMN lain. "Restrukturisasi dilakukan untuk bisa menghilangkan BUMN rugi," tandas Imam.

Sementera itu, PT Garuda Indonesia memberikan sumbangan terbesar dari total kerugian Rp5,8 triliun yang dialami 24 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sepanjang semester I 2017. Garuda mengalami kerugian sebesar US$283,8 juta, dengan mengakumulasikan kerugian di kuartal I 2017 US$ 99 juta dan kerugian kuartal II 2017 US$ 184,7 juta.

Angka tersebut mengalami kenaikan signifikan dibanding semester I 2016 US$ 63,19 juta. "Semester I memang gede itu (kerugian) Garuda, total kerugian semester sekitar Rp5 triliun," ungkap Sekertaris Kementrian BUMN Imam A Putro di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (30/8/2017).

Imam mengaku memiliki rincian total kerugian Rp5,8 triliun dari 24 BUMN. Namun, dia enggan membeberkannya. "Ada, tapi jangan lah. Kita masih ada waktu, itu data semester I," cetus Imam.

Berikut 24 BUMN yang masih rugi:

1. PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero)
2. Perum Bulog
3. PT Berdikari (Persero)
4. PT Indofarma (Persero) Tbk
5. PT Energy Management Indonesia (Persero)
6. PT Hotel Indonesia Natour (Persero)
7. PT Pos Indonesia (Persero)
8. Perum PFN
9. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk
10. PT Balai Pustaka (Persero)
11. PT PAL Indonesia (Persero)
12. PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero)
13. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk
14. PT Boma Bisma Indra (Persero)
15. PT INTI (Persero)
16. PT Dirgantara Indonesia (Persero)
17. PT Amarta Karya (Persero)
18 PT PDI Pulau Batam (Persero)
19. Perum Damri
20. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk
21. PT Danareksa (Persero)
22. PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (Persero)
23. PT Iglas (Persero)
24. PT Istaka Karya (Persero).(rid)

Sosial Media