10 Jan 2018 21:13

Dihadiri Pakde Karwo, Economic Outlook 2018 Bahas Ekonomi Era Digital

bumntoday.com

Acara pembukaan Seminar Nasional Economic Outlook 2018.

BUMNTODAY.COM - Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) gelar ekonomic outlook 2018, pada Rabu (10/1/18) di Hotel Bumi Surabaya. Acara yang mengupas tentang kebijakan dan strategi fiskal, moneter, perbankan dan sektor riil di era zaman ekonomi digital ini dibuka secara langsung oleh Gubernur Jatim, Soekarwo.

Gubernur Jatim, Soekarwo mengatakan, ekonomi digital harus gandeng atau bersatu dengan industri maupun lembaga seperti Bank Indonesia, Bank jatim, PTPN XI, Jamrida Jatim, Bank BPR Jatim dan BJTI Port.

“Ide ini merupakan tawaran optimis dari Jatim untuk menerapkan ekonomi digital dengan industri. Sesuai dengan keputusan Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) XIX Tahun 2015 yang menitikberatkan pada sektor industri sebagai penggerak pembangunan nasional.” ujarnya saat menjadi Keynote Speaker Seminar Nasional Economic Outlook 2018.

Pakde Karwo -sapaan akrab Gubernur Jatim Soekarwo- mencontohkan penerapan ekonomi digital dengan industri. Ekonomi digital dapat memberikan informasi tentang penyediaan bahan baku industri di masing-masing daerah. Sehingga ketika ada perusahaan membutuhkan bahan baku, bisa mengambil dari daerah dan tidak perlu impor dari luar negeri.

“Jadi, ekonomi digital itu tidak hanya permasalahan trading saja. Tetapi bisa mendukung sektor industri. Sebab kalau hanya melakukan trading dengan ekonomi digital, maka kita hanya menjadi trader,” jelasnya.

Selanjutnya disampaikan, Pemprov Jatim membuat penerapan ekonomi digital bidang industri terhadap bahan baku (raw material) yang dinamakan Sistem Informasi Perdagangan Bahan Baku (SIPAP). Tujuannya, agar ekonomi digital mendorong sistem perdagangan yang mempercepat substitusi impor. Sehingga kemandirian industri dalam negeri dapat terwujud.

Dalam aplikasi tersebut, jelas Pakde Karwo, dapat dilihat berbagai raw material dari berbagai daerah di Indonesia. Data lebih real time mengenai potensi dan kebutuhan masing-masing daerah, bersumber dari aggregator masing-masing provinsi. Dengan aplikasi ini perusahaan juga dapat secara langsung melakukan business to business.

“Kita punya channelling di sana. Sehingga industri Jatim yang 79 persen bahan bakunya dari luar negeri, bisa dikurangi perlahan-lahan hingga menjadi 50 persen. Jika bahan baku bisa mencapai 50 persen atau di bawahnya, maka neraca perdagangan kita surplus,” ujar orang nomor satu Jatim.  

Menurutnya, pemerintah harus mendorong penggunaan bahan baku yang ada di dalam negeri untuk digunakan industri. Dengan demikian tidak harus mendatangkan bahan baku dari luar negeri. “Ini tanggung jawab pemerintah, jangan membiarkan industri terus mengimpor bahan baku dari luar negeri,” pungkasnya.

Selain SIPAP, lanjutnya, Pemprov Jatim juga telah memiliki aplikasi East Java Investment Super Coridor (EJISC). Ini merupakan layanan virtual yang komprehensif dan terintegrasi dengan kabupaten/kota. Di dalamnya, investor atau pelaku usaha bisa melihat peta informasi potensi dan fasilitas di Jatim. Peluang investasi yang menginformasikan prospektus investasi. Bahkan juga menyajikan industri pariwisata dan help desk untuk menyampaikan tanya jawab, saran, pengaduan, dan kritik.

“Informasi yang disajikan melalui digital ini dapat mengakses mengenai tanah mana yang bisa dilakukan untuk investasi lengkap dengan harga per meternya, Begitu juga dengan info kecukupan air, listrik, akses ke pelabuhan. Itu satu geografi informasi,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI wilayah Jatim, Dify Achmad Johansyah mengatakan tugas utama lembaga BI dalam menanggapi kebijakan strategi fiskal, moneter perbankan dan sektor rill di ekonomi digital adalah mengedukasi cara menggunakan transaksi secara digital.

" Kami diminta untuk edukasi sosialisasi penggunaa kartu kredit kepada masyarakat," kata dia kepada reporter bumntoday.com.

Dia mengharapkan ke depan, di era ekonomi digital seluruh masyarakat menggunakan kartu kredit dalam dunia perdagangan dan yakin Jatim adalah provinsi yang mengawali keberhasilan.

"Jatim adalah salah satu provinsi yang lebih baik dan tinggi dibanding provinsi lain dalam penggunaan kartu kredit. Saya optimis perdagangan akan lebih maju dengan adanya perubahan pembayaran secara konvensional menjadi gesek,” ungkap dia dengan optimis. (tus/mif)

Sosial Media