02 Jun 2018 22:31

Kemenperin Harap Perundingan Kerja Sama Indonesia-Australia Segera Rampung

bumntoday.com

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. - JIBI/Dwi Prasetya

BUMNTODAY.COM - Kementerian Perindustrian berharap perundingan kerja sama Indonesia-Australia Comprehensive Economi Partnership Agreement (IA-CEPA) segera rampung.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan Kemenperin turut mendorong percepatan penyelesaian perundingan tersebut. Setelah dilakukan sebanyak 11 putaran perundingan dilaksanakan sejak Maret 2016, diharapkan pada tahun ini IA-CEPA bisa difinalisasi.

“Kami berharap dengan rencana Perdana Menteri Australia datang ke Indonesia pada Juli nanti, IA-CEPA bisa ditandatangani. Pasalnya, sebagian besar isu terkait sektor industri yang dibahas sudah selesai dan disepakati kedua belah pihak,” katanya Sabtu (2/6/2018).

Airlangga sendiri telah bertemu dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan AO pada Kamis (31/5/2018) lalu di Jakarta.

Dia menyebutkan Australia sudah menyetujui jika Indonesia ingin menerapkan tariff rate quota (TRQ) untuk produk baja gulungan canai panas atau dingin (hot/cold rolled steel coil).

Namun, untuk in-quota harus diberlakukan automatic import licensing. Selain itu, Australia bersedia mengeliminasi seluruh pos tarifnya saat perjanjian mulai berlaku.

Airlangga meyakini kerja sama bilateral yang komprehensif ini akan meningkatkan nilai ekspor produk Indonesia ke Australia.

Kemenperin mencatat volume perdagangan RI-Australia sepanjang 2017 mencapai US$8,53 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang senilai US$8,45 miliar. Total nilai perdagangan kedua negara pada periode Januari-Maret berkisar US$2,03 miliar.

Selama ini, komoditas ekspor unggulan Indonesia ke Negara Kangguru tersebut, antara lain furnitur, produk kimia dan karet olahan, makanan dan minuman, tekstil, serta elektronik.

Airlangga menyampaikan, pihaknya masih berkeinginan untuk dapat meningkatkan ekspor ke Australia berupa kendaraan dalam bentuk utuh (completely built up/CBU), baik yang mesin menggunakan bahan bakar maupun elektrik.

“Karena industri otomotif di sana tutup semua. Ini menjadi peluang bagi kita,” ujarnya.

Terkait mobil listrik, Australia masih meminta agar produk yang masuk ke negaranya adalah kendaraan dengan komponen lokal yang berasal dari kawasan Asean mencapai 40%, sementara Indonesia mengusulkan sekitar 20%-30%.

Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) I Gusti Putu Surywirawan menyatakan peluang ekspor kendaraan Indonesia ke pasar Australia cukup besar.

Terlebih lagi, sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0, industri otomotif merupakan salah satu dari lima sektor manufaktur yang diprioritaskan menjadi percontohan pada tahap awal untuk implementasi industri 4.0 di Tanah Air.

“Di dalam roadmap tersebut, pemerintah akan memacu industri otomotif nasional agar mampu menjadi champion untuk ekspor kendaraan ICE (internal combustion engine/mesin pembakaran dalam) dan EV (electric vehicle/kendaraan listrik),” jelasnya. (mif)

Sosial Media