02 Agu 2018 20:03

Tak Standard, PT Garam Tak Ragu Kembalikan Garam Petani

bumntoday.com

Garam berwarna coklat yang menggunung di Gudang PT Garam di Telogomadu, Gresik, ditolak oleh PT Garam.

BUMNTODAY.COM - PT Garam (Persero) menolak garam dari salah satu petani binaan KUD Kotagar yang masuk ke gudang PT Garam di Telogomadu, Gresik, karena tidak memenuhi standard. Penolakan tersebut dilakukan sebagai upaya PT Garam dalam meningkatkan quality control.

"Ini bentuk ketegasan kami dalam menerapkan quality contor di gudang milik PT Garam. Ketegasan ini sebagai komitmen PT Garam dalam menjaga kualitas demi terciptanya produk garam yang berkualitas tinggi," kata Direktur Operasional Hartono, Kamis (2/8/2018).    

Garam dari petani KUD Kotagar yang dikirim ke gudang berwarna cokelat, belum sepenuhnya bersih. Hal tersebut tidak sesuai dengan standard yang telah disepakati oleh pihak gudang dan petani. Karena itu, petani pun menerima dan memahami keputusan penolakan itu.

“Memang tidak semua garam kami kirim di sini. Karena kan, kualitasnya harus super. Garam kami 85 % membran. Sisanya masih garam tanah,” kata Ketua KUD Kotagar, Timbul. 

Dia menjelaskan, selama ini pihaknya telah mengarahkan para petani yang ada di bawah naungan KUD Kotagar untuk menjual garamnya ke PT Garam. Meski demikian, masih ada sejumlah petani yang menjual garamnya ke pihak swasta.

“Kami kan sifatnya mengarahkan. Tidak bisa memaksa. Kalau mereka mau jual ke swasta dengan mendapat harga yang lebih tinggi, itu haknya petani. Di Surabaya ini kan sekali swasta,” kata Timbul.   

Dia mengharapkan, ada stabilisasi harga dan semua garam petani bisa terserap. Sehingga petani tidak mengalami kerugian. “Jangan sampai harganya anjlok. Paling tidak stabil di Rp 1.500,” harap dia. 

“Kotagar berdiri jauh sebelum pugar. Sekarang ini di lapangan banyak yang ganda. Ikut pugar sekaligus Kotagar. Ini harus diatur. Saya juga berharap KKP tidak hanya beri bantuan ke Pugar saja. Tapi juga ke KUD Kotagar juga. Kami kan juga rakyat juga,” imbuhnya.

Timbul memaparkan, KUD Kotagar membawahi sekitar 200 petani yang ada di lima kecamatan; Asemrowo, Tandes, Skomanunggal, Benowo, dan Pakal. Dari 200 petani tersebut, bisa menghasilkan 60.000 ton per tahun. “Punya saya sendiri, sekali panen bisa 11 ton,” pungkasnya. (mif

Sosial Media