20 Agu 2018 15:37

Bicara Nasib Petani Tebu, HM Arum Sabil Tulis Surat Terbuka untuk Presiden

bumntoday.com

BUMNTODAY.COM - Praktisi pertanian/perkebunan dan peternakan HM Arum Sabil suarakan nasib petani dalam surat terbuka untuk Presiden republik Indonesia.

Tokoh yang cukup dikenal luas di pergaulan nasional ini pun bicara blak-blakan soal gula impor, pemburu rente, bencana pertanian tebu, kejahatan ekonomi dan kemanusiaan, hingga desakan supaya Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK yang harus turun tangan.  

Berikut adalah isi selengkapnya dari surat terbuka HM Arum Sabil, tokoh petani nasional dari Jember: 

 

KEPADA: 

Yth. BAPAK PRESIDEN RI JOKO WIDODO 

di

JAKARTA.

 

 

Assalamualaikum Wr Wb

Sebelumnya saya Menyampaikan Permohonan Maaf bila Tulisan saya kurang berkenan di hati Bapak Presiden RI

Saya HM ARUM SABIL Praktisi Pertanian/Perkebunan dan Peternakan

Dengan sangat Terpaksa saya Membuat Tulisan Tebuka ini kepada Bapak Presiden karena Komunikasi dan Diplomasi sudah sering kami lakukan terkait carut Marutnya Tataniaga Gula dengan Kementrian Terkait.

Namun ternyata hasilnya Kebijakan Tataniaga Gula tidak seperti yang di harapkan.

Sehingga yang terjadi adalah : Gula lmpor Menjadi Bencana Bagi Petani Tebu Rakyat Indonesia !

Musim Panen Tebu  dan di Mulainya Giling Pabrik Gula seharusnya di sambut Suka Cita Oleh Para Petani Tebu dan Karyawan Pabrik Gula.

Musim Panen Tebu Tentunya adalah sebuah harapan Besar Bagi Para Petani Tebu Rakyat Indonesia untuk Mewujutkan Segala Kebutuhan Hidupnya, mulia dari urusan Sandang Papan Pangan serta untuk bisa Mendapatkan  Pendidikan anak2nya dan Kesehatan Keluarganya Menuju Hidup yang Berdaya dan Berkualitas.

Begitu Pula Dengan keberadaan Pabrik Gula yang Menggiling Tebu Petani Tentunya Juga Memiliki sejuta harapan untuk bisa Mendapatkan Hasil agar bisa lebih Mensejahterakan Karyawannya dan Merawat Pabrik Gulanya.

Namun pada Musim Panen Tebu Th 2018 ini Petani Tebu Rakyat Indonesia Menyambutnya Dengan Duka dan Airmata. Karena Para Petani Tebu Mengalami Kebangkrutan Massal dan diantara Penyebabnya adalah :

- Banjirnya Gula Impor Raw Sugar  di olah di Indonesia untuk di jadikan Gula Rafinasi maupun Gula Krital Putih, Mendominasi mengisi Pasar Modern Maupun Tradisional sudah sangat melampaui Kebutuhan di dalam Negeri.

Kebrutalan Pemberian Ijin Impor Gula yang sangat kental dengan Indikasi Kepentingan Perburuan Fee Rente Impor Gula bisa di lihat pada 2 ( dua ) Kelompok Pemegang ijin Impor Produsen (IP).

Yang Pertama adalah Kelompok Importir Produsen Pabrik Gula Rafinasi yang bahan bakunya Rawsugar dengan Kapasitas terpasang sudah Mencapai di atas 5 juta ( lima juta) Ton.

Yang Kedua adalah Kelompok Importir Produsen yang Mengimpor Rawsugar untuk di jadikan Gula Krital Putih dengan alasan untuk Kepentingan Idle capacity, dengan Jumlah ijin yg di keluarkan hampir 2.000.000 ( dua juta ) Ton.

Dari Fakta tersebut di atas Potensi Ijin impor Rawsugar bisa Mencapai 7 juta (Tujuh Juta) ton dan bila di olah menjadi Gula Kristal Rafinasi(GKR) dan (Gula Kristal Putih) dengan Rendemen Rata2 95% akan Menjadi GKR dan GKP Total 6.650.000 (Enam juta enam ratus lima puluh ribu) ton.

Produksi Gula nasional berkisar antara 2.300.000 (dua juta tiga ratus ribu) ton.

Sehingga Potensi stok Gula yang ada di Indonesia bisa Mencapai 8.950.000.000 ( Delapan juta sebilan ratus Lima puluh ribu) ton.

Sementara Kebutuhan Gula Nasional baik utk Industri maupun konsumsi langsung adalah bisa digambarkan dengan hitungan kebutuhan Perkapita/th sbb :

Kebutuhan Gula Indonesia Th 2017/2018 Perkapita/th  utk konsumsi dan industri Total adalah sekitar 20kg X 260.000.000 jiwa = 5.200.000 ton ( Lima juta dua ratus ribu) ton.

Artinya bila Potensi stock Gula yang berasal dari Produksi dalam Negeri dan Impor Mencapai 8.950.000 ( Delapan juta sembilan ratus lima puluh ribu) ton.

Sementara kebutuhan dalam Negeri maksimal sekitar 5.200.000 ( Lima juta dua ratus ribu) ton.

Maka terjadi Potensi kelebihan stok Gula di Indonesia sekitar 3.750.000 ( tiga juta tujuratus Lima puluh Ribu) Ton.

Terkait hal tersebut di atas sangat memungkinkan ada pihak2 yang berbeda pendapat dengan Pikiran yang tertuang dalam tulisan saya tersebut. Karena itu untuk Membuktikan Kebenaran Adanya Indikasi Permainan perburuan Fee Rente Impor di harapkan aparat Penegak Hukum Kususnya KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK) Untuk Segera Melakukan Penyelidikan dan Penyidikan terkait Kebijakan dan pelaksanaan Impor Gula.

Karena dampak Kebijakan Impor Gula di Indonesia yang Brutal ini sudah Menghancurkan Tatanan Peradaban dan Budaya Pertanian Tebu Rakyat dan Telah Melumpuhkan Sumber kehidupan  masyarakat Pedesaan  serta sudah Mengarah Kepada KEJAHATAN KEMANUSIAAN.

Setelah Tsunami Gula Impor Membanjiri Negeri ini, Para Petani Tebu di hadapkan kembali kepada sebuah totonan akrobat kebijakan Pergulaan yang sangat Tidak sinergis. Salah satu contohnya adalah   di saat Kementrian Pertanian Menugaskan Team Survey Independent untuk Dasar Penetapan Harga acuan Pembelian Gula Petani dengan biaya uang Negara yang Melibatkan Berbagai Perguruan Tinggi terkemuka di Negeri ini dan hasil Surveynya Melalui Menteri Pertanian RI Merekomendasikan Untuk Harga Acuan Pembelian Gula Petani adalah Rp 10.500/kg

Namun Ternyata Kementrian Perdagangan Menetapkan Melalui Permendag harga acuan Gula Petani hanya Rp 9100/kg. Di sisi lain Kemendag Mengajukan Permohonan Kepada Kementrian BUMN agar Menugaskan Perum BULOG Membeli Gula Petani Rp 9700/kg. Kebijakan tersebut tentu nampak sekali sangat tidak cermat dan tidak bijak karena dengan Mengabaikan Rekomendasi Menteri Pertanian tentang harga acuan Gula Petani  Rp 10.500/kg Jelas sangat Merugikan Petani.

Dan Juga Merugikan Perum BULOG dengan Memberikan Penugasa Pembelian Gula Petani Rp 9700/kg,  sementara Kemendag sendiri Menetapkan aturan Acuan pembelian Gula Petani hanya Rp 9100/kg.

Dari uraian Fakta tersebut di atas sudah sangat jelas ada tiga pihak yang di rugikan dari kebijakan ijin Impor gula  tersebut. Yang Pertama adalah Petani Tebu. Kedua adalah Perusahaan Pabrik Gula yang berbasis Tebu Rakyat yang sebagian besar Milik Negara. Ketiga adalah Perum BULOG Yang Merupakan Perusahaan Milik Negara. 

Tiga pihak tersebut adalah Merupakan Motor Penggerak Perekonomian Masyarakat Pedesaan yang Melibatkan Hajat hidup Orang Banyak. Masyarakat Petani Tebu dan Negara juga sangat dirugikan dari Kebijakan Impor Gula tersebut, dan bisa disimpulkan bahwa kebijakan Impor Gula tersebut berpotensi terjadinya Kejahatan Ekonomi dan Kejahatan Kemanusiaan. Dan Tentunya hal tersebut akan dibayar Mahal Secara Politik oleh Pucuk Pimpinan di Negeri ini.

Oleh karena itu Para Petani Tebu Rakyat Indonesia Mendesak Bapak Joko Widodo Presiden Republik Indonesia untuk Mengambil langkah intervensi terhadap Regulasi Pergulaan Nasional yang Cenderung Menyakiti dan Melukai serta Merugikan Masyarakat Petani Tebu dan Keluarga Besar Pabrik Gula yang Berbasis Tebu Rakyat.

Langkah Intervensi dan instruksi yang harus Segera dilakukan Oleh Bapak Presiden Kepada Menteri Perdagangan adalah Sebagai berikut: 

1. Gula Kristal Putih (GKP) yang bahan bakunya berasal dari Gula Mentah Impor ( Rawsugar ) agar Sementara di stop dan di hentikan dulu Peredaranya dengan sangsi hukum yang tegas,
Sampai Gula Petani dan Milik Pabrik Gula yang Menggiling Tebu Rakyat Serta Gula Milik BULOG Yang Membeli Gula Petani Habis Terjual. Karena kalau Peredaran Gula Kristal Putih( GKP) yang berasal dari Gula Mentah Impor tidak Segera di hentikan Maka Gula Petani Tebu Rakyat dan Gula Milik Pabrik Gula Yang Menggiling Tebu Rakyat sudah tidak bisa tertampung Di Gudang Penyimpanan. Dan Dampaknya bisa sangat serius dan Fatal karena Pabrik Gula bisa Lumpuh.

2. Tertibkan dengan Sitem yang benar terhadap Tata niaga Gula Kriatal Rafinasi (GKR) yang berasal dari Gula Mentah Impor Dan Berikan sangsi hukum yang ber efek Jera Bagi oknum maupun Perusahaan yang Memperjual belikan Gula Kristal Rafinasi yang berasal dari Gula Mentah Impor ( Rawsugar) yang Tidak Sesuai Peruntukanya.

3. Sistem Pembelian Gula Milik  Petani Oleh BULOG, yang Tebunya di Giling Di PG BUMN maupun Swasta jangan ada Diskrimanasi.

4. Terhadap Kebijakan dan Pemberian Ijin Impor Gula Yang terindikasi ada Permainan dan konspirasi Perburuan Fee Rente Impor Gula agar segera Mendorong Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Untuk Segera Melakukan Penyelidikan terkait Isu yang berkembang adanya Indikasi  oknum terkait yang Terlibat.

5. Persoalan Efisiensi Pabrik Gula dan Tataniaga Gula supaya tidak Menjadi Bagian Persoalan yang di Bebankan kepada Petani Tebu Rakyat Indonesia Maka di Harapkan agar di Terbitkan Regulasi Sistem Pembelian Tebu dengan harga antara Rp 750/kg Tebu ( Tujuratus lima puluh rupiah/Kg Tebu ) sd Rp 1000/kg Tebu (Seribu Rupiah/kg Tebu)

JANGAN SAMPAI KETIDAKBERDAYAAN PETANI DAN DIAMNYA PETANI SERTA KESABARAN PETANI DALAM MENGHADAPI KEBIJAKAN YANG TIDAK BIJAK DAN TIDAK MEMBERDAYAKAN MELAHIRKAN TAFSIR YANG SALAH KEPADA PEMERINTAH.

HATI - HATI TERHADAP MARAHNYA ORANG - ORANG TIDAK BERDAYA

HATI - HATI TERHADAP MARAHNYA ORANG - ORANG DIAM

DAN .....

HATI - HATI TERHADAP DAHSYATNYA  MARAHNYA ORANG SABAR.

DAN JANGAN SAMPAI AKIBAT KEBIJAKAN  YANG TIDAK BIJAK OLEH MENTERI YANG MEMILIKI KEWENANGAN TENTANG TATANIAGA GULA AKAN DIBAYAR MAHAL SECARA POLITIK  OLEH BAPAK JOKO WIDODO SEBAGAI PRESIDEN RI DI KEMUDIAN HARI.

Semoga Kita Semua Selalu di Rahmati Allah SWT.

 

 

Surabaya, 20 Agustus 2018

 

Salam hormat, 

 

 

HM ARUM SABIL
Praktisi Pertanian/Perkebunan dan Peternakan

Sosial Media