13 Des 2018 21:04

Padi BATAN Cilosari Tahan Penyakit

bumntoday.com

BUMNTODAY.COM - Pengenalan padi unggul hasil litbang BATAN di Sambas dimulai sejak 2011. Upaya ini melalui kerjasama dengan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura (Untan) di desa Sepinggan Kecamatan Semparuk. Yang diperkenalkan beberapa  varietas antara lain Cilosari, Sidenuk, Bestari, Mira-1.

Karena kondisi lingkungan Sambas cukup tinggi kandungan asam, produktivitas hasil panen sering menurun. Tidak hanya pada padi BATAN, namun juga kepada padi lainnnya. Namun, salah satu keistimewaan padi BATAN yakni Cilosari mampu beradaptasi dengan lingkungan sampai sekarang dan relatif lebih tahan terhadap penyakit.

Dikabarkan situs resmi batan.co.id edisi 11 Desember 2018, Sekda Kab Sambas Ibrahim yang mewakili Bupati menyebutkan lahan sawah di Sambas 60 ribu hektar terdiri dari teknis dan tadah huan. Dengan luasan ini, Pemda mempunyai target kebutuhan benih sekitar 900 ton benih berlabel. Yang dapat dipenuhi hanya 400 ton. Sisanya dari daerah lain.

Kepala Dinas Pertanian Sambas, Yayan Kurniawan, mengajak para produsen benih untuk meningkatkan produksi yang berkuaitas dan berlabel untuk mendukung program pemerintah tentang ketahanan pangan. Sambas harus tetap menjadi lumbung padi bagi Kalimantan Barat.

Deputi Pemanfaatan Teknologi Nuklir (PTN) BATAN, Hendig Winarno, menyampaikan BATAN sebagai lembaga litbang telah menghasilkan beberpa produk di bidang kesehatan, industri, dan pertanian/peternakan. Menurutnya, di bidang pertanian sampai sekarang BATAN menghasilkan 23 varietas benih unggul. “Silahkan, masyarakat, jika berminat memanfaatkannya.”

Dalam acara forum tersebut, BATAN tidak hanya memperkealkan padi namun juga produk lainnya sebagai pendukung pertanian, yaitu Oligochitosan sebagai zat perangkat perutumbuhan. Peneliti BATAN Tita Purnamasari dalam pemaparannya menyampaikan chitosan ini terbuat dari bahan aman terhdap lingkungan. Terbuat dari cangkang udang, chitosan dapat melindungi tanaman dari serangan bakteri dan virus sehigga meningkatkan produktivitas sampai 30 %

Pengenalan padi BATAN kepada masyarakat desa Sepinggan berawal dari dukungan petani bernama  M. Yatim. Saat itu, desa belum ada kelompok tani. Yatim  pertama kali mencoba tanam padi varietas Cilosari, Sidenuk, Bestari, Mira. Dengan perjalanan waktu, Yatim setiap kali selesai musim tanam selalu melakukan pengamatan. Dari evaluasinya, tercatat hasil padi Cilosari lebih bertahan daripada varietas padi lain bukan dari BATAN. Cilosari tahan terhadap lingkungan dan penyakit tanaman blast alias membusuknya batang leher.

Menurut Yatim, awal pengenalan padi BATAN di desanya tak mudah. Ia sempat kesulitan mengajak petani lainnya. Namun, setelah masyarakat melihat hasil panen padi Cilosari melebihi  panen  padi lain, maka para petani mulai bersedia mananam padi Cilosasri. Dari keberhasilan dan kegigihan Yatim, akhirnya para petani menaruh kepercayaan padanya untuk membina dan memimpin beberapa kelompok. Lahirlah gapoktan ‘Semangat Maju’ beranggota 25 kelompok tani. Gapoktan ini memenuhi permintaan benih dari masyarakat serta untuk kebutuhan pengadaan benih di pemerintah daerah

 

Sosial Media