25 Jan 2019 22:09

Pertamina Hasilkan Biosolar Ramah Lingkungan

bumntoday.com

BUMNTODAY.COM – Sinergi dua unit operasi Pertamina, yaitu Refinery Unit (RU) III dan Marketing Operation Region (MOR) II alias RUMOR 32, membawa hasil membanggakan. Di Kilang RU III pada 24 Januari 2019, Pertamina meluncurkan bahan bakar ramah lingkungan Biosolar (B-20).

Peluncuran itu sebagai komitmen menjalankan kebijakan pemerintah sesuai Permen ESDM No 41 2018 untuk menerapkan penggunaan campuran bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar dengan minyak nabati (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) sebesar 20% yang diproduksi Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN).

Launching Biosolar (B-20) ini menunjukkan Pertamina RU III Plaju siap mendukung program Pemerintah dan memenuhi keamanan suplai khususnya di daerah Sumbagsel melalui sinergi dengan Marketing Operation Region II Sumbagsel untuk melakukan produksi dan menyalurkan bahan bakar ramah lingkungan kepada masyarakat,” ujar GM RU III Plaju, Yosua I. M Nababan, dikutip energia-news.

RU III melakukan peningkatan dari segi sarfas penerimaan FAME maupun produksi B-20 dalam tempo cukup cepat. Kilang RU III mampu mengolah pasokan FAME dari supplier dengan kapasitas 30.000-40.000 KL/bulan. FAME diterima melalui kapal dan disalurkan melalui RPM (Rumah Pompa Minyak) di area tangki penyimpanan. Di sini, FAME dicampur Solar sebagai B-20 untuk kemudian diangkut melalui sarfas kapal maupun pipa ke TBBM wilayah Sumatera Selatan dan Lampung.

“Kami berterima kasih atas apresiasi Menteri ESDM RI saat kunjungannya ke RU III. Menciptakan energi bersih menjadi prioritas kami sebagai green refinery pertama di Indonesia," sambungnya.

Selain untuk memenuhi regulasi, injeksi FAME 20% ke dalam produk Solar dapat memberikan potensi peningkatan kualitas pada produk akhir. Pjs. General Manager MOR II Hendrix Eko Verbriono mengatakan, B-20 ini memiliki Cetane Number di atas 50 atau lebih tinggi dari Solar murni dengan Cetane Number 48. "Semakin tinggi angka Cetane, semakin sempurna pembakaran sehingga polusi dapat ditekan. Kerapatan energi per volume yang diperoleh juga makin besar. Selain itu, campuran FAME menurunkan sulfur pada produk Diesel," tuturnya.

Penerapan bahan bakar ramah lingkungan ini juga berdampak pada pengendalian angka impor BBM sehingga diharapkan ikut mendukung stabilitas nilai rupiah dan menghemat devisa negara. Melalui pemanfaatan minyak sawit, selain menyejahterakan petani dengan menjaga stabilisasi harga CPO, juga mampu mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) 29% dari Business as Usual (BAU) pada 2030.

RU III Plaju merupakan salah satu dari 30 lokasi yang ditentukan menerima FAME dengan pertimbangan kebutuhan B-20 untuk provinsi Sumatera Selatan dan Lampung sebanyak 3.500 - 5.000 KL/hari. Saat ini secara reguler dapat dipenuhi seluruhnya dari RU III Plaju yang mampu menghasilkan Biosolar (B-20) 180.000-200.000 KL/bulan. Ini bagian dari upaya Pertamina menjamin ketahanan stok BBM ramah lingkungan di pasaran.

Pertamina akan terus berinovasi menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan antara lain dengan langsung mengolah CPO di dalam kilang untuk menghasilkan green fuel berupa green gasoline, green diesel dan green avtur.

Sosial Media