03 Feb 2019 11:24

Syiar Lingkungan Gubernur Akpol di City Forest and Farm Jember

bumntoday.com

BUMNTODAY.COM - Gubernur Akademi Kepolisian RI, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel MSi, beserta Istri dan para pejabat utama Akpol melakukan silaturrahim di City Forest and Farm Arum Sabil Jember pada 30 Januari 2019. Acara ini disertai dengan menanam pohon buah Nusantara jenis durian sebagai lambang pelestarian lingkungan.

Dalam silaturrahim itu, Gubernur Akpol didampingi Kapolres Jember, Dandim Jember, Kajari Jember dan tokoh muda ulama NU KH M. Misbahussalam, dijamu oleh tuan rumah H. M. Arum Sabil.

Arum Sabil, mitra PTPN, pendiri Taruna Bhumi Foundation, yang aktif dan bergerak di bidang pendidikan dan lingkungan hidup serta pertanian, mengapresiasi keteladanan Gubernur Akpol melakukan langkah nyata menorehkan prasasti dengan menanam tanaman hortikultura sebagai syiar Kemandirian Buah Nusantara dan Pelestarian Lingkungan Hidup untuk masa depan kehidupan generasi mendatang.

KH Misbahussalam menilai, kegiatan itu salah satu bentuk implementasi dari fiqh al bi'ah (fikih lingkungan). Dalam Islam, ada ajaran terkait menjaga lingkungan. Islam menekankan umatnya untuk menjaga kelestarian lingkungan dan berlaku arif terhadap alam (ecology wisdom).

Dalam QS. al-Anbiya’/21: 35-39, Allah mengisahkan kasus Nabi Adam. Adam telah diberi peringatan oleh Allah untuk tidak mencabut dan memakan buah khuldi. Namun, Nabi Adam melanggar larangan itu. Akhirnya, Adam terusir dari surga dan diturunkan ke dunia. Di sini, surga ibarat kehidupan makmur, sedangkan dunia ibarat kehidupan sengsara. Karena telah merusak ekologi surga, Adam terlempar ke padang tandus, kering, panas dan gersang.

Doktrin ini mengingatkan manusia agar sadar terhadap persoalan lingkungan dan berikhtiar melihara ekosistem alam. Akan tetapi, dalam kenyataan sehari-hari, doktrin tersebut tidak diindahkan. Perusakan lingkungan tidak pernah berhenti. Eksplorasi alam tidak terukur dan makin merajalela. Dampaknya, ekosistem menjadi limbung. Ini tentu saja mengkhawatirkan. Alam akan menjadi ancaman kehidupan yang serius, yang senantiasa siap mengamuk sewaktu-waktu.

Misbahussalam menegaskan, “Kegiatan menanam pohon yang dilakukan H.M. Arum Sabil bersama tamu-tamu yang hadir ke City Forest and Farm Jember mengandung pesan bahwa kita harus menjaga lingkungan dengan menanam pohon buah Nusantara. Pepohonan ini nanti memiliki fungsi menahan air dalam akar akarnya, sumber oksigen, mengurangi dampak pemanasan global, menyerap polusi udara, menyediakan tempat tinggal hewan, mencegah banjir, udara tersebar merata dan mencegah erosi, serta bila berbuah dapat memberi penghasilan materi.” 

Jadi, menurutnya, ekologi sebagai doktrin ajaran. Artinya, menempatkan wacana lingkungan bukan pada cabang (furu’), tetapi termasuk doktrin utama (ushul) ajaran Islam.

Sebagaimana dijelaskan Yusuf Qardhawi dalam Ri’ayah al-Bi’ah fiy Syari’ah al-Islam (2001), memelihara lingkungan sama halnya dengan menjaga lima tujuan dasar Islam (maqashid al-syari’ah). Sebab, kelima tujuan dasar tersebut bisa terejawantah jika lingkungan dan alam semesta mendukungnya. Karena itu, memelihara lingkungan sama hukumnya dengan maqashid al-syari’ah.

Dalam kaidah Ushul Fiqh disebutkan, “Ma la yatimmu al-wajib illa bihi fawuha wajibun.” (Sesuatu yang membawa kepada kewajiban, maka sesuatu itu hukumnya wajib). “Tidak sempurna iman seseorang jika tidak peduli lingkungan. Keberimanan seseorang tidak hanya diukur dari banyaknya ritual di tempat ibadah. Tapi, juga menjaga dan memelihara lingkungan merupakan hal yang sangat fundamental dalam kesempurnaan iman seseorang.”

Sosial Media