19 Feb 2019 09:05

BATAN Tingkatkan Standar Mutu Laboratorium

bumntoday.com

BUMNTODAY.COM - Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sebagai lembaga non kementerian yang bertugas melakukan penelitian, pengembangan, dan pendayagunaan iptek nuklir, mulai 2017 telah menyatakan diri sebagai lembaga Clearing House Teknologi Nuklir (CHTN) di Indonesia. Untuk itu BATAN harus memperoleh pengakuan dari pihak independen atas kompetensi yang dimiliki sesuai standar terbaru yang diakui dunia.

“Saat ini, standar edisi terbaru untuk akreditasi laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi mengacu pada  ISO/IEC 17025:2017,” demikian disampaikan Kepala Pusat Standardisasi dan Mutu Nuklir (PSMN) BATAN, Budi Santoso, terkait Pelatihan Understanding & Developing ISO/IEC 17025:2017 di PSMN - BATAN, Kawasan Nuklir Serpong, Tangerang Selatan, 18 Februari 2019, dikutip situs resmi batan.go.id.

“Pelatihan ini bertujuan menyiapkan personel laboratorium BATAN agar memahami dan mampu mengembangkan sistem dalam implementasi menuju laboratorium handal yang sesuai dengan ISO/IEC 17025:2017,” lanjut Budi.

Dengan semangat BATAN Incorporated, BATAN ingin menghasilkan output yang bersifat extra ordinary dalam memberikan rekomendasi, sertifikasi, data dan informasi yang dibutuhkan masyarakat terkait teknologi nuklir.

“Saat ini sertifikat pengujian yang dikeluarkan BATAN masih terbatas pada item uji tertentu, bukan sebagai satu kesatuan produk,” ujar Budi. “Target BATAN ke depan adalah sertifikasi produk, proses dan jasa melalui Lembaga Sertifikasi Produk, disingkat LS Pro dengan diperkuat adanya Laboratorium Uji yang terakreditasi sesuai SNI ISO/IEC 1702."

Nara sumber pelatihan, Agus Nurhadi dari AN Training & Consulting, menyampaikan BATAN sebagai lembaga yang mempunyai otorisasi harus dilengkapi kompetensi yang mendapat pengakuan lembaga independen. “Kemampuan kita dalam menghasilkan hasil uji yang valid serta konsistensi dalam menerapkan ISO 17025, akan diakui secara internasional,” kata Agus.

“Jangan sampai konsistensi itu luntur yang mengakibatkan pembekuan akreditasi bahkan hingga pencabutan,” ujar Agus. “Ini yang disebut dengan Jejak Salah. Tidak ada mekanisme menghapus Jejak Salah, sehingga akan tetap tercatat dan terekam di direktori skala internasional, yang tentunya akan sangat merugikan. Maka, sangat penting untuk tidak meninggalkan Jejak Salah dan menjaga komitmen untuk konsisten menerapkan ISO 17025.”

Sementara itu, PSMN selaku penyelenggara menyampaikan pelatihan ini diikuti 23 pegawai BATAN dari PSMN selaku sekretariat pelaksana CHTN serta dari unit kerja yang memiliki laboratorium layanan pengujian untuk masyarakat. Pelatihan ini akan berlanjut hingga semua unit teknis dan ruang lingkup laboratorium di BATAN terakreditasi. Diharapkan jumlah dan ruang lingkup laboratorium yang terakreditasi di BATAN semakin banyak untuk mendukung BATAN sebagai CHTN di Indonesia.

 

Sosial Media