21 Feb 2019 10:26

Prinsip Ibu Mentri BUMN, Sebuah Nasihat bagi Kami (bagian 2)

bumntoday.com

Oleh: H. Arum Sabil

BUMNTODAY.COM - Sinar mentari pagi menyapa bumi Glenmore Banyuwangi, ketika kami beranjak menuju Doesoen Kakao, Sabtu 16 Pebruari 2019. Jam menunjukkan pukul 05.25. Ini hari kedua kami bersama Ibu Rini Marini Soemarno, Menteri BUMN RI beserta jajaran direksi BUMN.

Kami melihat langkah Ibu Menteri BUMN tetap mantap, raut wajahnya pun tak tampak layu. Padahal, sehari kemarin beliau beraktivitas sedari pagi hingga malam, berpindah kota mulai dari Surabaya, Probolinggo, Lumajang, Jember hingga Glenmore di Banyuwangi.

Lokasi kami menginap di Glenmore ke Doesoen Kakao sekitar 19 km. Tapi, dalam hitungan menit, kami sudah memasuki areal Perkebunan Kendeng Lembu. Bukan karena kami dikawal mobil patwal semata, namun cepatnya waktu tempuh ke tempat tujuan dipermudah dengan infrastruktur yang mendukung. Jalan menuju ke wisata edukasi budidaya dan produksi kakao sangat bagus, sehingga sangat layak sebagai destinasi wisata.

Alam perkebunan ini sungguh indah. Sejauh mata memandang tampak dedaunan hijau dibatasi pegunungan berselimut embun pagi. "Sungguh mempesona ciptaanmu, Ya Rob. Subhanallah. Kami bersyukur bisa menikmatinya. Pantas Engkau Ya Rob mengingatkan kami dalam kitabmu yang Maha Agung: Nikmat mana lagi yang kamu dustakan (QS: Arrahman)

Di lokasi acara, kami disambut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Beliau lah yang merubah wajah kabupaten paling ujung Pulau Jawa ini selama dua periode. Berkat sentuhan tangan kreatif Bapak Anas, kini Banyuwangi semakin banyak memiliki destinasi wisata. Gaungnya pun sudah ke manca negara.

Dalam sambutannya, beliau sempat berkelakar: "Pak Arum Sabil, kalau ke Banyuwangi, gak perlu muter-muter lewat Gunung Gumiter. Tak perlu macet lagi. InsyaAllah, dalam waktu dekat, waktu tempuh semakin pendek karena jalur lintas selatan atau JLS sudah akan rampung".

Ya, memang pembangunan infrastrutur Banyuwangi terus dikebut. JLS hanya tersisa 12 km. Tentu jika JLS rampung, koneksi antar kota utamanya Jember-Banyuwangi semakin baik.

Sementara itu, titik start sudah penuh sesak dengan peserta. Totalnya 2 ribu peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Ajang Chocolate Glenmore Run dimulai tepat pukul 06.30 WIB. Ibu Rini bukan sekedar membuka acara alias seremonial saja, namun justru beliau berjalan mengikuti rute lomba sejauh 5 km. 

Sungguh tak menyangka. Kami awalnya mengira beliau akan berjalan 500 meter atau paling jauh 1 km. Tapi beliau sanggup berjalan stabil tanpa henti kecuali menyapa warga sepanjang rute yang dilalui. Padahal jalan perkebunan licin karena jalan berlumpur. Maklum, intensitas hujan masih tinggi.

Kami spontan sempat melarang lantaran beliau turun dan melintasi sungai. Namun beliau tetap pada pendiriannya, karena ingin merasakan seperti yang dirasakan para peserta. Ibu Menteri melangkah tanpa ragu sambil tertawa riang. Kami yang turut bersama pun larut dalam kegembiraan. Sebuah kenangan yang tak akan mudah terlupa.

Perjalanan kami sungguh berwarna, layaknya panggung kehidupan. Ada kalanya bersuka cita, dan terkadang muncul empati ketika melihat warga yang masih di bawah garis kemiskinan. Inilah pelajaran lain yang kami peroleh.

Di balik kegembiraan acara, ibu Rini mengajak kami melihat realitas kehidupan. Sebab masih cukup banyak di sekitar kita yang masih belum merasakan kesejahteraan. Rupanya ini pesan tersirat mengapa beliau begitu kuat untuk menyusuri pemukiman perkebunan.

Beliau sempatkan berinteraksi. Beliau serap aspirasi dan selanjutnya dianalisis untuk menentukan langkah pasti. Kami melhat bagaimana Ibu Menteri mengajak seluruh warga yang mengabadikan dirinya untuk foto bersama. Sebuah inisiatif yang langka. Tentu warga terharu karena bisa berdialog dan foto bersama, yang kelak menjadi kenangan tak terlupa.

Alhamdulillah, kami bersyukur kepada Engkau Ya Rob karena bisa mengikuti langkah seorang pemimpin yang amanah, ihklas dalam bekerja. Beiau selalu menghindari ekspose keberhasilan, sehingga --maaf-- ada yang menganggap beliau tidak bekerja. Semoga kita bisa mentauladani kiprah dan tulus ikhlas beliau dalam mengarungi kehidupan ini.

Sebelum kami akhiri tulisan ini, ada satu lagi kalimat Beliau yang melekat di benak kami: "Saya akan terus melangkah jika apa yang saya lakukan benar dan tidak menyakiti orang lain. Jangan sekali kali kita melangkah hanya untuk menyakiti orang lain."

Salam hormat.

Sosial Media